*SEBELUM HUJAN & UNDANGAN HUJAN*

SEBELUM HUJAN

Bagaimana bila hujan datang lebih cepat dari datangmu?
Aku tahu kau suka hujan tapi aku takkan membiarkan hujan menyakitmu. Membuatmu kedinginan dan basah kuyup.
Membuatmu menunggu lebih lama karena tertahan.

Lalu, pertemuan kita tertunda beberapa lama. Hingga hujan reda. Hingga tanah mengering. Dan aku tidak tahu itu kapan. Mungkin saat payung-payung hilang dari jalanan.

Bagaimana bila hujan datang lebih cepat dari datangmu. Akankah dia menjadi penghalang? Tolong datanglah lebih cepat sebelum hujan. Sebab menikmati hujan denganmu terasa lebih lengkap. Tidak ada cerita menulis namamu dibalik kaca yang berembun. Sebab kau telah ada di depanku.

Tolong datanglah lebih cepat dari hujan. Agar kita bisa berdoa bersama-sama hingga hujan reda.

 

UNDANGAN HUJAN

Undangan yang akan kita terima terbuat dari udara dingin dan langit yang kelabu. Angin yang berhembus mengabarkan beritanya. Awan yang berarak-arak menyapu langit yang tadinya biru.

Undangan yang akan kita terima terbuat dari bulir-bulir air. Dari setiap tetesnya terdapat huruf-huruf yang tersusun rapi. Menuliskan kenangan menjadi cerita yang utuh dalam pikiran.

Siapapun yang diundang hujan bisa menjadi sendu. Rindu bertumpuk-tumpuk menjadi cair. Dan sayangnya hati hanya sebesar gelas, sementara rindu seperti es di kutub utara. Tidak kuat hati menampungnya. Maka mengalirlah ia menjadi air mata.

Siapapun yang diundang hujan bisa menjadi bahagia. Kaca yang berembun bisa dituliskan nama. Tersenyum-senyum sendiri memikirkan sesuatu. Berbaring dibawah selimut hangat dan menulis sesuatu. Hujan membuat suasana menjadi lebih romantis dari biasanya.

Undangan hujan yang aku terima kali ini sepertinya akan menjadi kesedihan. Undangan yang terbuat dari petir dan gemuruh. Dari angin dan awal gelap. Undangan tentang kabar hilangnya harapan, tentang hilangnya kesempatan. Aku telah menyia-nyiakan hari yang cerah untuk memperjuangkanmu. Dan kini hujan menghentikan langkahku. Menyamarkan air mataku. Dibawah hujan, kamu tidak akan tahu ada aku. Sebab aku telah melebur menjadi tetesnya. Mengalir dibalik jendela kaca kamarmu.

Lalu,
hilang oleh sinar matahari.

 

Menyapih ala Islam

Lily Ardas

taken from milis asiforbaby
written by : Ummu Sumayyah Mutiara

*Muqaddimah*

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita memujiNya dan memohon ampunanNya, dan kita berlindung dari kejahatan diri kita sendiri dan keburukan amal kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk padanya maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang sesat maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya (selain Allah). Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad (adalah) hambaNya dan RasulNya -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Ama ba’du

Banyak orang yang mengira setelah anak mencapai usia tepat dua tahun, maka ia wajib disapih. Bagaimana pun caranya akan dilakukan ibu agar anaknya berhenti menyusu pada usia itu, mulai dari mengolesi puting dengan sesuatu yang tidak disukai anak seperti jamu, saos, lipstik, bahkan sampai membiarkannya menangis berjam-jam. Hal ini tidak lepas dari keinginan para ibu (dalam hal ini yang…

View original post 1,875 more words

*:_ Tidak Siap _:*

# Oleh :  Ust. Badrusalam, Lc.

Kita terkadang tidak siap untuk menjadi murid..
Ketika melihat sebuah kesalahan dari guru..
Kita segera pergi meninggalkannya..
Dan menggunjingnya di belakangnya..
Padahal guru kita adalah manusia bukan Nabi..

Kita terkadang tidak siap untuk menjadi guru..
Ketika diingatkan sebuah kesalahan..
Sering muncul keangkuhan..
Padahal tanda keikhlasan adalah menerima kritikan yang baik..

Kita terkadang tidak siap untuk menjadi besar..
Mudah terkena ujub dan merasa nikmat dengan kehormatan..
Bila kita merasa direndahkan..
Kesombongan seringkali muncul menggelapkan hati..

Kita terkadang tidak siap untuk menuntut ilmu..
Sering tidur di kajian atau berbincang bincang..
Padahal salaf terdahulu amat hormat kepada ilmu..
Mereka duduk seakan ada burung bertengger di atas kepala..
Karena ilmu jauh lebih mulia dari harta..

Kita terkadang tidak siap menjadi kaya..
Tertipu dengan dunia dan lupa kepada sang pencipta..
Rasa pelit membelit hati..
Dan memandang sepele kaum fuqoro..
Padahal harta hanya titipan Allah kelak ia akan ditanya..

Kita terkadang tidak siap untuk meniti jalan menuju surga..
Hawa nafsu masih diperturutkan..
Syahwat menjadi hiasan kehidupan..
Padahal surga dikelilingi dengan sesuatu berat..

 

Mengerjakan Kebaikan Bukanlah Syarat Bagi Seseorang Diperbolehkan Mengajak Orang Lain Berbuat Baik

Noted This…

NashirusSunnah Blog

Mengapa Kamu Mengatakan Apa yang Tidak Kamu Lakukan ?

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” [QS. Ash-Shaff : 2].

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” [QS. Al-Baqarah : 44].

View original post 1,664 more words