menjadi cahaya atas dendam…

Dia masih kecil ketika harus menyaksikan ayah dan seluruh anggota keluarganya yang suci dibantai di Padang Karbala. Dia tumbuh sebagai yatim-piatu dengan warisan luka yang dalam menyayat hati.. Tak putus-putus derita dan penistaan yang dilakukan orang kepadanya. Tetapi lelaki ini, ‘Ali Zainal ‘Abidin ibn Husain membuktikan diri sebagai keturunan Sang Nabi akhir zaman yang mewarisi kemuliaan tak terperi.

“tidakkah kau hidup dengan dendam,” tanya seseorang, “atau setidaknya dengki kepada bani ‘Umayyah?”

‘Ali Zainal ‘Abidin berkata sambil tersenyum:

“Aku selalu tanamkan pada diri ini, bahwa berdengki itu artinya kau menuang racun ke dalam mulutmu sendiri hingga tertenggak sampai usus, lalu berharap bahwa musuh-musuhmulah yang akan mati karenanya. Apakah yang demikian itu tindakan orang berakal?”

‘Ali Zainal ‘Abidin ibn Husain adalah cahaya yang menenggelamkan semua gelap dendam. Dia mengambil jalan tinggi, mengatasi semua rasa sakit dan luka lama. Dia menyembuhkan lara itu.

Sebab dia memahami bahwa yang benar-benar berarti bukanlah apa yang terjadi pada dirinya, melainkan apa yang terdapat di dalam dirinya. Dia melihat kebutuhan jiwanya akan kebaikan, dan oleh sebab itu dia menyalurkan kebaikan tersebut kepada orang lain. Dia menginsyafi bahwa dirinya bukanlah korban. Dengan sadar dia memang memilih untuk menjadi mulia dengan melayani orang lain. Dia menetapkan standar lebih tinggi untuk dirinya sendiri dibandingkan apa yang akan dilekatkan orang pada dirinya.

Di saat lelaki agung ini wafat dan jenazahnya dimandikan, keluarga menemukan galur menghitam di punggungnya. Itulah saksi bahwa sepanjang hidupnya, dialah penyantun fakir dan anak-anak yatim di seantero Madinah yang berkeliling tiap malam memikul sendiri bantuan-bantuan (untuk dibagikan). -tak ada yang mengetahui akhlak mulia ini hingga akhir wafatnya, ketika tak ada lagi fakir yang menemukan bantuan di depan rumahnya masing-masing sepeninggal ‘Ali-

Maka mari kita menyimak butir-butir doanya dalam Shahifah As Sajjadiyah yang mengharu biru..doa jalan tinggi, doa untuk menjadi cahaya.

ya Allah, sampaikan salam shalawat kepada Muhammad dan keluarganya

bimbinglah aku untuk
melawan orang yang mengkhianatiku dengan kesetiaan
membalas orang yang mengabaikanku dengan kebajikan
memberi orang yang bakhil kepadaku dengan pengorbanan
menyambut orang yang memusuhiku dengan kasih sayang
menentang orang yang menggunjingku dengan pujian
berterima kasih atas kebaikan dan menutup mata dari keburukan

ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya

hiasilah kepribadianku dengan hiasan para shalihin
berilah aku busana kaum muttaqin

dengan menyebarkan keadilan, menahan kemarahan, meredam kebencian,
mempersatukan yang berpecah, mendamaikan pertengkaran,
menyiarkan kebaikan, menyembunyikan kejelekan,
memelihara kelembutan, memiliki kerendahan hati,
berperilaku yang baik, memegang teguh pendirian,
menyenangkan dalam pergaulan, bersegera melakukan kebaikan,
meninggalkan kecaman, memberi walau kepada yang tak berhak,

 

#Dalam Dekapan Ukhuwah, by Salim A. Fillah, page 370-372

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s