bukan untuk diingat…

berikut adalah pesan penuh cinta dari teladan terbaik seluruh ummat, yang semoga bisa kulaksanakan sepenuh tekad-semaksimal usaha-sesadar diri sebagai anak yang masih meliuk-liuk di jalan cintaNya, juga sebagai ibu yang kelak dipanuti anak2nya.. Layakkah kita meminta keshalehan anak tatkala kita sendiri belum menjalankan pesan Nabi tercinta kita.. Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, ya Allah mampukan kami meneladani RasuluLlah dan menjalankan pesan beliau menjaga hak-hakMu… pesan yang BUKAN UNTUK DIINGAT tapi dilaksanakan…

Inilah pesan Nabi Saw kepada Ibnu Abbas r.a., seorang sahabat Nabi Saw. Ketika itu Ibnu Abbas masih kecil dan sedang beranjak besar. Tetapi Nabi Saw mengajarkan kepadanya nasihat-nasihat yang apabila kita memeganginya dengan kokoh, meski kita sudah bukan anak-anak lagi, niscaya akan tumbuh penjagaan dalam diri kita sendiri. Kita berhati-hati dalam bertindak bukan karena khawatir terhadap mata yang memandang dan telinga yang mendengar dari manusia yang ada di sekeliling kita, melainkan karena yakin bahwa ke mana pun menghadapkan wajah, di sanalah ada Wajah Allah.

Agar dapat merasakan bagaimana pesan Nabi Saw kepada anak kecil, mari sejenak kita perhatikan dengan saksama pesan yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi berikut ini. Nabi Saw bersabda:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (H.r. at-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, Nabi Saw bersabda:

“Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan.”

* Copy Paste dari FB ust. Mohammad Fauzil Adhim

+ ya Allah, sadarkan kami selalu untuk selalu mengingatMu, hidupkan kami selalu untuk selalu di jalan lurusMu…aamiin +

#Umar ibn Khattab

Open Your Mind

“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus: 7-8).

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Q.s. Ghafir: 39).

Dunia adalah fana. Namun tak banyak orang yang menyadari bahwa kenikmatan dunia hanya sementara. Padahal, kampung yang kita tuju sesungguhnya adalah kampung akhirat. Inilah kisah yang  Umar bin Khattab lebih memilih hidup dalam kecukupan dibandingkan bergelimang harta di dunia. Semoga bisa menjadi pembelajaran.

Kemilau Budi Pekerti Luhur

Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab tidak punya waktu lagi untuk berdagang. Hari-harinya disita oleh urusan pemerintahan dan umat. Maka, pada suatu hari, beliau berbicara di depan rakyatnya, “Wahai, Saudara-saudara. Aku telah kalian percayai untuk memangku jabatan selaku khalifah, yang membuatku tidak…

View original post 525 more words

menjadi cahaya atas dendam…

Dia masih kecil ketika harus menyaksikan ayah dan seluruh anggota keluarganya yang suci dibantai di Padang Karbala. Dia tumbuh sebagai yatim-piatu dengan warisan luka yang dalam menyayat hati.. Tak putus-putus derita dan penistaan yang dilakukan orang kepadanya. Tetapi lelaki ini, ‘Ali Zainal ‘Abidin ibn Husain membuktikan diri sebagai keturunan Sang Nabi akhir zaman yang mewarisi kemuliaan tak terperi.

“tidakkah kau hidup dengan dendam,” tanya seseorang, “atau setidaknya dengki kepada bani ‘Umayyah?”

‘Ali Zainal ‘Abidin berkata sambil tersenyum:

“Aku selalu tanamkan pada diri ini, bahwa berdengki itu artinya kau menuang racun ke dalam mulutmu sendiri hingga tertenggak sampai usus, lalu berharap bahwa musuh-musuhmulah yang akan mati karenanya. Apakah yang demikian itu tindakan orang berakal?”

‘Ali Zainal ‘Abidin ibn Husain adalah cahaya yang menenggelamkan semua gelap dendam. Dia mengambil jalan tinggi, mengatasi semua rasa sakit dan luka lama. Dia menyembuhkan lara itu.

Sebab dia memahami bahwa yang benar-benar berarti bukanlah apa yang terjadi pada dirinya, melainkan apa yang terdapat di dalam dirinya. Dia melihat kebutuhan jiwanya akan kebaikan, dan oleh sebab itu dia menyalurkan kebaikan tersebut kepada orang lain. Dia menginsyafi bahwa dirinya bukanlah korban. Dengan sadar dia memang memilih untuk menjadi mulia dengan melayani orang lain. Dia menetapkan standar lebih tinggi untuk dirinya sendiri dibandingkan apa yang akan dilekatkan orang pada dirinya.

Di saat lelaki agung ini wafat dan jenazahnya dimandikan, keluarga menemukan galur menghitam di punggungnya. Itulah saksi bahwa sepanjang hidupnya, dialah penyantun fakir dan anak-anak yatim di seantero Madinah yang berkeliling tiap malam memikul sendiri bantuan-bantuan (untuk dibagikan). -tak ada yang mengetahui akhlak mulia ini hingga akhir wafatnya, ketika tak ada lagi fakir yang menemukan bantuan di depan rumahnya masing-masing sepeninggal ‘Ali-

Maka mari kita menyimak butir-butir doanya dalam Shahifah As Sajjadiyah yang mengharu biru..doa jalan tinggi, doa untuk menjadi cahaya.

ya Allah, sampaikan salam shalawat kepada Muhammad dan keluarganya

bimbinglah aku untuk
melawan orang yang mengkhianatiku dengan kesetiaan
membalas orang yang mengabaikanku dengan kebajikan
memberi orang yang bakhil kepadaku dengan pengorbanan
menyambut orang yang memusuhiku dengan kasih sayang
menentang orang yang menggunjingku dengan pujian
berterima kasih atas kebaikan dan menutup mata dari keburukan

ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya

hiasilah kepribadianku dengan hiasan para shalihin
berilah aku busana kaum muttaqin

dengan menyebarkan keadilan, menahan kemarahan, meredam kebencian,
mempersatukan yang berpecah, mendamaikan pertengkaran,
menyiarkan kebaikan, menyembunyikan kejelekan,
memelihara kelembutan, memiliki kerendahan hati,
berperilaku yang baik, memegang teguh pendirian,
menyenangkan dalam pergaulan, bersegera melakukan kebaikan,
meninggalkan kecaman, memberi walau kepada yang tak berhak,

 

#Dalam Dekapan Ukhuwah, by Salim A. Fillah, page 370-372

Senikmat berbagi..

sebuah lilin yang berkelip menyala pasti padam juga
ketika telah habis sumbu dan teruap minyaknya
tetapi lihat saja, dia tak pernah kehilangan apapun
ketika berbagi apinya, menyalakan lilin-lilin lain

dalam dekapan ukhuwah, begitulah kenikmatan berbagi
dengan umur kita yang fana, dengan kekayaan tak seberapa
mungkin saja banyak sesama yang bisa ikut bercahaya

bahkan dengarkanlah Ad-Darani, lelaki yang banya berbagi
“suatu waktu,” katanya
“sedang kusuapi salah seorang saudaraku..
..dan tiba-tiba kurasakan makanan itu lezat di kerongkonganku.”

begitulah, dalam dekapan ukhuwah,
berbagi adalah keajaiban

*Dalam Dekapan Ukhuwah by Salim A. Fillah page 373

Dia yang aku panggil, Ayah.

pesannya: “…Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya..”

This..

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Ayahanda tercinta yang sedang bahagia karena hari ini adalah hari ketika beliau dilahirkan di dunia. Selamat hari lahir, ayah.

Setahuku, botol kaca besar itu selalu ada di lantai samping lemari di kamar orang tuaku. Sebelum tidur, ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemerincingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu,

View original post 502 more words

^^ Sagitta ^^

Perkenalkan namanya Hanifah. Putri pertama dari suami pertama 🙂

Dikasih nama “hanifah” agar ia menjadi muslimah yang hanif di zaman yang penuh fitnah ini. Semoga ia menjadi bagian dari hamba Allah yang taqwa, beriman, dan beruntung..yang teguh berjuang di jalan Allah dengan penuh cinta. Cinta kepada Allah Ta’ala, pada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada Al Qur’an dan sunnah Rasul, pada shahabat dan shahabiyah radhiyallahu-anhum-anhuma, pada para ulama dan pecinta ilmu Allah, pada orang tua dan keluarga, pada anak-anak yatim dan fakir miskin.. InsyaAllah menjadi perhiasan terbaik seorang hamba Allah yang mampu menjaga diri dan keluarganya dari api neraka, membersamainya menegakkan tauhid kepada Allah Ta’ala. menghidupkan sunnah Rasulullah, dan membangun peradaban Islam yang kaffah, menjadi generasi terbaik kecintaan ummat..dan melahirkan generasi-generasi penerus yang menjaga sholat dan menjaga Qur’an..  Semoga Allah meridhoinya… Semoga Allah meridhoi mereka… Semoga Allah meridhoi kami… Dan mengumpulkan kami di akhirat kelak bersama hamba-Nya yang paling kami cintai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam..